Nama Jeffrey Edward Epstein kembali menjadi pembicaraan publik setelah pemerintah Amerika Serikat merilis jutaan halaman dokumen kasus yang berkaitan dengan jaringan kriminal besar yang ia pimpin. Sosok ini dikenal bukan sekadar pengusaha kaya, namun juga pelaku kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur yang menimbulkan gelombang kemarahan global.
Jeffrey Epstein lahir pada 20 Januari 1953 di Brooklyn, New York, dan awalnya bekerja sebagai guru matematika di sekolah swasta di Manhattan. Kariernya kemudian beralih ke dunia keuangan, di mana ia menjadi mitra di perusahaan investasi besar sebelum mendirikan firma sendiri. Melalui perannya sebagai konsultan keuangan dan pengelola kekayaan, Epstein membangun jaringan luas dengan para elite — mulai dari pengusaha terkaya hingga tokoh politik dan aristokrat dunia.
Meski reputasinya sebagai financier cukup solid, jejak hitam Epstein mulai muncul ketika kasus dugaan kriminal terhadapnya muncul ke permukaan.
Kasus besar yang membuat nama Epstein dikenal publik internasional bermula dari penyelidikan polisi di Palm Beach, Florida pada 2005, ketika seorang orang tua melaporkan bahwa putrinya yang masih berusia 14 tahun diperkosa oleh Epstein. Penyelidikan menemukan puluhan korban lain — beberapa bahkan yang masih remaja — yang menjadi korban eksploitasi seksual Epstein.
Epstein kemudian mengakui bersalah dalam persidangan ringan pada 2008 atas dua tuduhan tindak pidana terkait prostitusi anak, yang membuatnya dijatuhi hukuman 13 bulan penjara dengan fasilitas work release atau bekerja di luar penjara. Kesepakatan hukum ini menuai kritik tajam publik dan media sebagai contoh dari “keistimewaan hukum untuk orang kaya”.
Pada 6 Juli 2019, jaksa federal di New York kembali menangkap Epstein atas tuduhan sex trafficking atau perdagangan seks yang lebih serius dan luas. Dakwaan federal menyatakan bahwa ia secara sistematis mengatur dan memaksa puluhan anak perempuan di bawah umur dan remaja untuk dieksploitasi secara seksual di sejumlah properti mewah yang ia miliki di New York dan Florida antara awal 2000-an hingga pertengahan dekade tersebut.
Namun peristiwa ini tak sempat mencapai persidangan penuh. Pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan tewas di sel tahanannya di Metropolitan Correctional Center, New York City, sementara ia menunggu proses hukum lanjutan. Pemeriksaan medis resmi menyatakan ia meninggal akibat bunuh diri dengan cara menggantung diri, meskipun teori konspirasi dan kontroversi mengenai kematiannya terus beredar luas di publik.
Puncak kehebohan terbaru muncul setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis lebih dari 3 juta halaman dokumen, termasuk ribuan video serta ratusan ribu foto, yang berkaitan dengan kasus Epstein. Rilis ini dimandatkan oleh undang-undang baru yang disahkan Kongres AS pada 2025 untuk membuka dokumen yang sebelumnya tersegel.
Materi tersebut memuat berbagai korespondensi, daftar tamu, dan bukti lain yang menunjukkan keterlibatan Epstein dengan sejumlah tokoh dari dunia politik, bisnis, dan hiburan. Meski publikasi dokumen masih disunting untuk melindungi identitas korban, keterkaitan Epstein dengan nama-nama besar dunia telah memicu spekulasi, kritik, dan penyelidikan lanjutan di berbagai negara.
Rangkaian Dampak Skandal Internasional
Kasus Epstein tidak berhenti pada dirinya sendiri. Jejaringnya juga menyeret orang-orang berpengaruh dan memunculkan konsekuensi di berbagai negara. Di Norwegia, mantan pejabat tinggi tengah diselidiki terkait hubungan mereka dengan Epstein.
Selain itu, baru-baru ini publikasi dokumen juga menunjukkan korespondensi dengan beberapa tokoh publik Prancis, yang meskipun tidak terbukti terlibat dalam kejahatannya, memicu pertanyaan tentang keterkaitan profesional atau sosial mereka dengan Epstein.
Jeffrey Epstein dijadikan simbol dari bagaimana kekayaan dan akses elit dapat digunakan untuk menghindari hukuman yang berat — sekaligus menggambarkan penderitaan para korban yang suaranya baru terdengar setelah bertahun-tahun. Banyak dari korban yang kemudian berjuang demi pengakuan dan keadilan, sementara masyarakat global terus menyaksikan dampak sosial dan hukum dari kasus yang mengguncang dunia ini.

