BintanPos.Com
Finance

Di Balik Loyang Panas, Ada Ketekunan yang Tak Pernah Padam

BINTAN – Di dapur rumah sederhana, seorang perempuan berhijab tampak berdiri di depan oven besar berbahan logam. Tangannya memegang spatula, matanya fokus memperhatikan deretan adonan berwarna kuning keemasan yang mulai mengembang. Cahaya lampu dapur memantul di permukaan oven, menciptakan suasana hangat yang menegaskan bahwa proses ini bukan sekadar memasak, melainkan merawat harapan.

Oven itu bukan alat biasa. Alat ini menjadi saksi perubahan, dari dapur rumah tangga menjadi ruang produksi usaha kecil yang terus bertumbuh. Setiap loyang yang masuk dan keluar membawa cerita tentang ketekunan, tentang malam-malam panjang yang dilalui dengan sabar, dan tentang keyakinan bahwa kerja dari rumah pun bisa memberi dampak nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Di balik kesibukan mengatur suhu dan waktu panggang, tersimpan nilai-nilai disiplin dan keikhlasan. Tak ada tergesa-gesa, tak ada sorotan kamera. Yang ada hanya konsistensi—mengulang proses yang sama, hari demi hari—demi menjaga rasa, kualitas, dan kepercayaan pelanggan. Dari dapur sempit inilah aroma usaha perlahan menyebar, menembus batas rumah menuju pasar yang lebih luas.

Ketekunan dan kesabaran itulah yang menghantarkan Julianti (51) hingga menjadi seperti sekarang. Warga Kecamatan Bintan Timur ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir segalanya, melainkan titik awal untuk bangkit dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Perjalanan Yanti dimulai dari masa sulit. Pada 2016, kondisi ekonomi keluarganya goyah setelah sang suami menyelesaikan kontrak kerja dan belum memiliki pekerjaan tetap. Di tengah tekanan kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan dua anaknya, Yanti memilih tidak menyerah.

Dari dapur rumah sederhana, Yanti mulai mencoba berbagai usaha kecil. Ia ingin memastikan roda ekonomi keluarga tetap berputar, sekaligus menjamin masa depan pendidikan anak-anaknya. Kini, satu anaknya telah bekerja. “Yang satu lagi sebentar lagi sarjana,” ucapnya.

Usaha pertama yang ia rintis adalah kerajinan tangan. Atas ide sang anak, Yanti membuat sarung pulpen dengan berbagai karakter menarik. Produk itu dijual secara terbatas, namun memberi keyakinan bahwa usaha rumahan bisa menjadi jalan keluar.

Tak berhenti di situ, Yanti mencoba peruntungan lain dengan mengolah ubi menjadi bolu. Setiap malam, proses produksi dilakukan mulai pukul 21.00 hingga larut. Pagi harinya, kue-kue tersebut dititipkan ke warung sekitar rumah.

Namun usaha kue ubi itu hanya bertahan sekitar satu tahun. Keuntungan yang diperoleh belum mampu menutup kebutuhan keluarga secara optimal. Meski begitu, pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi Yanti untuk terus melangkah.

Kesadaran bahwa usaha akan lebih kuat jika dijalankan bersama mendorong Yanti mengambil langkah baru. Ia menginisiasi pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) yang melibatkan sepuluh ibu-ibu di lingkungannya, sebagian besar merupakan orangtua tunggal.

Bersama kelompok tersebut, Yanti mulai mencari produk yang memiliki potensi pasar lebih luas. Dari berbagai pilihan, ia menjatuhkan pilihan pada keripik tempe, makanan sederhana yang digemari lintas usia.

Proses belajar tidak berjalan mulus. Selama hampir satu tahun, Yanti dan anggota kelompok berulang kali gagal, terutama saat mengiris tempe agar tipis dan seragam. Kegagalan demi kegagalan mereka alami tanpa putus asa.

“Setelah satu tahun mencoba, barulah kami bisa mengiris tempe dengan baik,” tutur Yanti.

Ketekunan itu akhirnya berbuah hasil. Pada 2022, keripik tempe produksi kelompoknya mulai dipasarkan secara resmi. Produk tersebut telah mengantongi logo halal, membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan kepercayaan konsumen.

Pemasaran dilakukan secara bertahap. Yanti memulainya dari lingkungan terdekat seperti organisasi perempuan, PKK, arisan, hingga jaringan sosial di sekitar tempat tinggalnya. Strategi sederhana itu terbukti efektif.

Ia juga mengurus izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) agar produknya bisa masuk ke gerai ritel lokal. Saat ini, keripik tempe produksinya dijual di gerai D’Sayur dengan harga Rp14.000 per kemasan untuk varian original.

Permintaan pasar terus meningkat. Yanti bahkan pernah menerima pesanan hingga 75 kilogram keripik tempe. Namun, keterbatasan bahan baku membuat pesanan tersebut belum sepenuhnya bisa dipenuhi.

Menjelang momen besar seperti Lebaran, kelompok usahanya menerapkan sistem pre-order sejak jauh hari. Langkah ini membantu mereka mengatur produksi dan memastikan kualitas tetap terjaga.

Di sela aktivitas produksi, Yanti memiliki kebiasaan khas. Saat mengiris tempe, ia selalu melantunkan shalawat. Baginya, usaha bukan sekadar soal keuntungan, tetapi juga soal ketenangan batin dan keberkahan.

Seiring perkembangan zaman, kelompok usaha ini juga beradaptasi dengan teknologi. Seluruh anggota kini telah menggunakan sistem pembayaran digital QRIS, memudahkan transaksi dan menjangkau konsumen lebih luas.

Selain mengelola keripik tempe, Yanti juga menjabat Ketua Kelompok UP2K Seraiwangi di Kecamatan Bintan Timur. Bersama anggotanya, ia memproduksi beragam olahan pangan, mulai dari kue kering, kerupuk, rengginang, peyek, bolu, donat, hingga produk khas Kepulauan Riau seperti gonggong rebus dan telur cumi asin.

Dorongan besar datang pada Desember 2025. Kelompok UP2K Seraiwangi menerima bantuan alat produksi dari program CSR BRK Syariah senilai sekitar Rp42 juta.

Bantuan tersebut mencakup oven, alat pengiris tempe multifungsi, kukusan besar, penggiling daging, hingga mesin pengadon donat. “Rasanya seperti dapat harta karun,” kata Yanti, mengenang momen tersebut.

Dengan peralatan baru, kapasitas produksi meningkat signifikan. Produksi keripik tempe kini mencapai sekitar 2,7 kilogram per hari. Dua anggota tambahan juga direkrut untuk membantu proses produksi.

Bagi Yanti, prinsip usaha sejak awal sangat jelas. “Usaha ini harus membawa orang lain ikut bekerja dan punya penghasilan tambahan,” ujarnya. Kini, perjuangan yang dimulai dari dapur rumah itu telah menjelma menjadi sumber harapan bagi banyak keluarga.***

Related posts

Harga Emas Anjlok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Dagang dengan Inggris

admin

Harga Emas Pegadaian 12 Februari 2025: Antam dan UBS Melejit Semakin Tinggi

admin

Harga Jual Emas Pegadaian Hari Ini Naik Tajam (17 Mei 2025), Antam Paling Dominan

admin