BintanPos.Com
Nasional

Virus Nipah Jadi Perhatian, Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Nasional

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan resmi kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Nipah, menyusul temuan kasus di negara tetangga dan lingkungan global yang dinilai berisiko. Meski hingga kini belum ada konfirmasi kasus pada manusia di Indonesia, otoritas kesehatan menilai kewaspadaan itu penting dilakukan demi antisipasi potensi penularan.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa Indonesia termasuk wilayah yang berpotensi rentan karena mobilitas penduduk tinggi serta posisi geografisnya yang dekat dengan negara-negara yang pernah melaporkan kejadian Nipah. Oleh karena itu, masyarakat diminta terus waspada dan melaksanakan langkah-langkah pencegahan secara proaktif.

Apa Itu Virus Nipah dan Mengapa Waspada Diperlukan?

Virus Nipah (Nipah virus) adalah patogen zoonotik yang biasanya berasal dari kelelawar buah (Pteropus spp.) sebagai inangnya. Virus ini dapat menular ke manusia melalui:

  • Kontaminasi makanan atau minuman yang terpapar air liur atau urine hewan yang terinfeksi

  • Perantara hewan lain seperti babi

  • Kontak erat antarmanusia dalam kasus tertentu

Infeksi Nipah dapat menyebabkan gejala yang bervariasi, mulai dari demam dan sesak napas, hingga ensefalitis (peradangan otak) yang berpotensi fatal. Belum adanya vaksin atau terapi khusus menjadikan virus ini termasuk dalam daftar prioritas pengawasan WHO, meski penyebarannya antarmanusia relatif terbatas dibandingkan penyakit lain seperti COVID-19.

Kekhawatiran global terhadap virus Nipah kembali mengemuka setelah sejumlah kasus dikonfirmasi di negara bagian West Bengal, India. Pemerintah di beberapa negara Asia, termasuk Thailand, Malaysia, dan Singapura, meningkatkan langkah pengawasan di pelabuhan dan bandara untuk mencegah masuknya virus ke wilayah mereka.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pernah menyatakan bahwa, meskipun risiko penyebaran Nipah di luar wilayah yang terkena itu dinilai rendah, virus ini memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, sehingga kewaspadaan tetap menjadi langkah penting.

Lebih dari sekadar imbauan umum, Kemenkes melalui surat edaran resmi meminta masyarakat dan layanan kesehatan untuk:

  • Menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, terutama buah yang berisiko terpapar hewan seperti kelelawar

  • Tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohon tanpa dimasak, karena bisa terkontaminasi secara tidak sadar

  • Mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dimakan

  • Memantau gejala seperti ISPA, pneumonia, dan peradangan otak pada diri sendiri atau keluarga, serta segera melapor ke puskesmas atau fasilitas kesehatan jika muncul kecurigaan infeksi

Selain itu, dinas kesehatan di seluruh daerah telah diminta memperketat pemantauan epidemiologi gejala penyakit serupa, termasuk meningitis dan gejala pernapasan yang tidak biasa, untuk deteksi dini kemungkinan kasus Nipah.

Upaya Indonesia juga mencakup penguatan pengawasan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan melalui kerja sama antar-instansi, termasuk Badan Karantina Kesehatan. Pemerintah menyoroti pengawasan terhadap hewan, terutama kelelawar dan unggas migran, karena potensi penyebaran virus melalui jalur hewan liar.

Meskipun belum ada kasus yang dilaporkan, sejumlah pihak di sektor kesehatan masyarakat menekankan bahwa ketidakhadiran kasus bukan berarti bebas risiko. Oleh karena itu, strategi kesiapsiagaan dan komunikasi risiko terhadap publik terus ditingkatkan agar respons cepat dapat dilakukan jika ada indikasi kasus di masa mendatang.

Related posts

InJourney Airports Sambut Baik Penetapan Bandara Internasional oleh Pemerintah

admin

Polemik Stadion JIS, Habiskan Dana Rp 5 Triliun Tapi Tak Sesuai Standar

admin

Kehilangan Potensi 1,6 Juta Ton Bioetanol dari Limbah Sawit

admin