BintanPos.Com
Ekbis

Dolar Terancam? Utang AS yang Menggunung Picu Kekhawatiran Global

Utang Amerika Serikat (AS) kembali mencatat rekor baru pada 2026, tembus sekitar USD38 triliun atau setara ± Rp637.393 triliun. Lonjakan ini memicu kekhawatiran para ekonom dan pelaku pasar global karena level utang yang sedemikian besar belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ekonomi modern.

Menurut pendiri hedge fund terbesar dunia, Ray Dalio, lonjakan utang tersebut bukan sekadar angka di neraca fiskal AS, tetapi menandai tekanan struktural yang sangat serius terhadap sistem moneter global yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung perekonomian dunia.

Dalio, yang sering menjadi figur penting dalam diskusi risiko makroekonomi global, menganggap kondisi saat ini sebagai titik akhir dari apa yang ia sebut “Big Cycle” — fase akhir dari siklus panjang sistem utang dan moneter yang berulang sepanjang sejarah. Dalam pandangannya, akumulasi utang yang terus membesar telah menciptakan dilema kebijakan yang sangat rumit dan berpotensi berdampak lintas generasi.

“Kita sekarang sedang menghadapi runtuhnya tatanan moneter. Kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berbahaya: mencetak uang lebih banyak atau membiarkan krisis utang terjadi tanpa kendali,” ujar Dalio dalam berbagai forum internasional termasuk World Economic Forum di Davos.

Dalio menegaskan bahwa pilihan untuk mencetak uang demi membiayai defisit fiskal AS dapat mempercepat pelemahan nilai dolar, sementara membiarkan masalah utang memburuk tanpa kebijakan mitigasi yang tepat bisa memicu guncangan dahsyat pada pasar keuangan global. Kepercayaan terhadap dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia pun, menurutnya, sedang diuji.

Perhatian terhadap risiko ini juga mendapat resonansi di pasar komoditas. Harga emas, misalnya, telah mencatat rekor tertinggi baru dalam beberapa waktu terakhir karena investor mencari aset “safe haven” di tengah ketidakpastian keuangan global.

Kekhawatiran Dalio bukan sekadar spekulasi. Lembaga pemantau fiskal independen di AS memperingatkan bahwa utang nasional kini tumbuh lebih cepat daripada ekonomi itu sendiri, menempatkan negara dalam jalur yang bisa memicu berbagai jenis krisis fiskal jika tidak ditangani.

Selain itu, dinamika geopolitik dan pergeseran kebijakan cadangan devisa global menunjukkan bahwa sejumlah negara semakin melakukan diversifikasi dari dolar AS ke aset lain, termasuk emas dan mata uang alternatif. Ini mencerminkan langkah mitigasi risiko dari negara-negara yang khawatir dengan potensi instabilitas sistem moneter global.

Para analis menilai bahwa peringatan Dalio harus menjadi sinyal bagi pembuat kebijakan dan investor global untuk lebih siap menghadapi kemungkinan perubahan besar dalam arsitektur keuangan internasional — baik itu melalui restrukturisasi utang, inflasi yang lebih tinggi, maupun pergeseran peran mata uang utama dalam sistem global.

Related posts

Gas Bumi Diharapkan Dapat Kurangi Kebutuhan Impor LPG

admin

Mulai 14 Juli 2025, Pedagang Toko Online Wajib Bayar Pajak, Ini Aturan Lengkapnya

admin

Mendekati Akhir Tahun, Subsidi Motor Listrik 2025 Masih Tertahan

admin